Kepala Dinas Sosial Kotim, Hawianan
SAMPIT, TOVMEDIA.CO.ID – Pemkab Kotim menargetkan pembangunan Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 55 rampung sepenuhnya pada September 2026.
Hingga akhir Mei, progres pembangunan sekolah tersebut telah mencapai sekitar 53 persen. Pemerintah optimistis pembangunan ruang kelas dan asrama dapat selesai pada akhir Juni mendatang.
Kepala Dinas Sosial Kotim, Hawianan, mengatakan, pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum mengerjakan proyek tersebut dengan menunjuk PT Adhi Karya sebagai pelaksana.
“Berdasarkan informasi dari pihak pelaksana, targetnya pada 30 Juni nanti pembangunan ruang kelas dan asrama sudah selesai. Kami berharap September seluruh pembangunan bisa tuntas,” kata Hawianan, Senin (25/5/2026).
Pemerintah membangun Sekolah Rakyat di atas lahan hibah seluas 6,7 hektare. Selain menjadi kawasan pendidikan, lokasi tersebut juga akan memiliki berbagai fasilitas pendukung untuk pengembangan karakter dan bakat siswa.
Pemerintah menyiapkan sarana olahraga, gedung pertemuan, ruang pengembangan kreativitas, hingga ruang terbuka hijau guna menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan representatif.
“Semua fasilitas pendukung akan dibangun secara lengkap, termasuk tempat pengembangan bakat anak-anak dan sarana olahraga agar siswa bisa berkembang secara akademik maupun non akademik,” ujarnya.
Sekolah Rakyat mengusung konsep pendidikan berasrama atau boarding school. Karena itu, seluruh siswa nantinya wajib tinggal di asrama selama mengikuti proses pendidikan.
Selain menyediakan pendidikan gratis bagi siswa dari keluarga kurang mampu, pemerintah juga menanggung kebutuhan pendidikan, mulai dari biaya sekolah, seragam, perlengkapan belajar, hingga konsumsi harian siswa. Para siswa nantinya memperoleh fasilitas makan tiga kali sehari dan makanan ringan dua kali sehari selama tinggal di asrama.
Bentuk Tm Teknis
Sebelum memulai pembangunan, pemerintah terlebih dahulu menyusun master plan dan mengurus Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) agar proyek berjalan sesuai ketentuan.
Pemerintah daerah juga membentuk tim teknis khusus untuk membantu pengawasan sekaligus memfasilitasi kebutuhan di lapangan selama proses pembangunan berlangsung.
“Beberapa waktu lalu kami juga membantu menyiapkan tenda untuk tempat istirahat pekerja karena jumlah tenaga kerja yang terlibat di lapangan cukup banyak,” ungkapnya.
Hawianan berharap, keberadaan Sekolah Rakyat mampu membuka akses pendidikan yang layak dan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera.
“Kami berharap Sekolah Rakyat ini dapat menjadi jalan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk terus melanjutkan pendidikan dan meraih masa depan yang lebih baik,” demikian Hawianan.
Editor: Frans Dodie*