Wakil Bupati Kotim, Irawati
SAMPIT, TOVMEDIA.CO.ID – Pembangunan Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 55 di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memasuki tahap akhir. Hingga Agustus 2026, progres pembangunan fasilitas tersebut mencapai sekitar 80 persen. Pemerintah daerah menargetkan seluruh pekerjaan rampung pada September 2026.
Wakil Bupati Kotim, Irawati, mengatakan, Pemkab Kotim terus memantau perkembangan pembangunan SRT 55. Pemerintah daerah juga mendampingi pengawasan yang dilakukan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Kalteng.
Irawati bersama Tim BPKP meninjau langsung lokasi SRT 55 di Jalan Wengga Metropolitan. Kunjungan itu berlangsung setelah tim pengawasan tersebut bertemu dengan Irawati di ruang kerjanya.
“Alhamdulillah, hari ini saya mendampingi kunjungan kerja BPKP Perwakilan Provinsi Kalimantan Tengah. Beliau ingin melihat langsung progres pembangunan Sekolah Rakyat,” kata Irawati, Jumat (14/8/2026).
Dalam program Sekolah Rakyat, Pemkab Kotim memberikan dukungan administrasi dan pengawasan di daerah. Sementara itu, kewenangan utama program berada pada Kementerian Sosial (Kemensos).
Irawati menjelaskan, Kemensos menangani sejumlah kebutuhan utama program, termasuk anggaran, guru, dan tenaga kebersihan.
“Mulai dari anggaran, guru, hingga tenaga cleaning service, surat keputusannya berasal dari Kemensos,” ujarnya.
Karena itu, Pemkab Kotim berfokus memastikan pelaksanaan program di daerah berjalan sesuai ketentuan dan mendukung kebijakan pemerintah pusat.
Siswa Belum Seluruhnya Pindah
Seiring pembangunan yang terus berjalan, proses pemindahan peserta didik ke lokasi utama SRT 55 belum dapat dilakukan secara keseluruhan. Saat ini, sekitar 50 siswa tingkat sekolah dasar masih menempati sekolah perintis di kawasan Islamic Center, Jalan Jenderal Sudirman Km 3. Sementara itu, siswa tingkat SMA telah pindah ke lokasi Sekolah Rakyat bersama peserta didik baru.
“Masih ada 50 orang. Kalau siswa tingkat SMA sudah dipindahkan ke lokasi Sekolah Rakyat dan digabung dengan peserta didik baru,” kata Irawati.
Salah satu fasilitas yang masih menunggu penyelesaian adalah asrama. Pemkab Kotim mempertimbangkan kondisi asrama sebelum memindahkan seluruh siswa ke kompleks SRT 55.
Menurut Irawati, keterbatasan ruangan saat ini membuat jumlah penghuni di sejumlah kamar cukup banyak. Salah satu ruangan bahkan menampung hingga 16 siswa.
Pemkab Kotim kemudian mengatur kembali penempatan siswa agar penghuni tidak selalu memenuhi kapasitas maksimal kamar. Pemerintah daerah mengambil langkah itu untuk menjaga kenyamanan peserta didik selama tinggal di asrama.
“Kami mengupayakan agar tidak terlalu banyak dalam satu ruangan, karena kondisinya menjadi terlalu padat dan kurang nyaman bagi anak-anak,” ujarnya.
Irawati menyebut satu kamar asrama memiliki kapasitas sekitar 18 hingga 22 orang. Namun, pemerintah daerah tetap berupaya mengatur jumlah penghuni selama masih tersedia pilihan penempatan lain.
“Asrama belum seluruhnya selesai, jadi kami kasihan apabila anak-anak terlalu padat dalam satu ruangan,” katanya.
Dengan progres pembangunan yang telah mencapai sekitar 80 persen, Pemkab Kotim berharap seluruh fasilitas SRT 55 dapat selesai sesuai target. Setelah fasilitas siap, pemerintah daerah menargetkan seluruh peserta didik dapat menempati kompleks Sekolah Rakyat dengan kondisi yang lebih mendukung kegiatan belajar dan kehidupan sehari-hari.
Editor: Frans Dodie*