OJK Kalteng menyampaikan perkembangan kinerja perbankan di wilayah setempat hingga Agustus 2026. Foto Ist
PALANGKA RAYA, TOVMEDIA.CO.ID – Penyaluran kredit bank umum di Kalteng terus tumbuh di tengah dinamika ekonomi dan dampak karhutla. Hingga Agustus 2026, bank umum menyalurkan kredit dan pembiayaan sebesar Rp55,52 triliun.
Kepala OJK Kalteng, Primandanu Febriyan Aziz, mengatakan, pertumbuhan kredit tersebut menunjukkan perbankan masih menjalankan fungsi intermediasi di tengah berbagai tantangan ekonomi.
OJK Kalteng mencatat pertumbuhan kredit sebesar Rp3,60 triliun atau 6,94 persen secara tahunan dari Rp51,92 triliun pada Agustus 2025. Bank umum juga meningkatkan aset dan dana pihak ketiga (DPK). Aset bank umum bertambah Rp9,35 triliun atau 9,75 persen dari Rp95,92 triliun menjadi Rp105,27 triliun.
DPK bertambah Rp2,14 triliun atau 4,08 persen dari Rp52,38 triliun menjadi Rp54,52 triliun. Di tengah pertumbuhan kredit, bank umum menurunkan rasio kredit bermasalah atau NPL/NPF dari 2,34 persen menjadi 2,29 persen.
Bank umum menyalurkan kredit konsumtif sebesar Rp22,24 triliun atau 40,06 persen dari total kredit. Mereka menyalurkan kredit modal kerja sebesar Rp19,30 triliun atau 34,76 persen dan kredit investasi sebesar Rp13,98 triliun atau 25,18 persen.
Rumah tangga menerima porsi kredit terbesar dengan nilai Rp21,90 triliun atau 39,44 persen dari total kredit.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menerima Rp16,62 triliun atau 29,93 persen. Industri pengolahan menerima Rp1,21 triliun, aktivitas jasa lainnya Rp1,01 triliun, dan konstruksi Rp910 miliar.
“Berdasarkan skala usaha, bank umum menyalurkan Rp36,91 triliun atau 66,48 persen kredit kepada sektor non-UMKM,” kata Primandanu, Selasa (6/10/2026).
Bank umum juga menyalurkan Rp9,40 triliun atau 16,93 persen kepada usaha mikro, Rp5,94 triliun atau 10,69 persen kepada usaha kecil, dan Rp3,28 triliun atau 5,90 persen kepada usaha menengah.
Menurut Primandanu, perkembangan kredit, DPK, aset, dan kualitas kredit tersebut menunjukkan sektor perbankan masih memiliki ruang untuk menopang aktivitas ekonomi daerah.
Editor: Frans Dodie*
