Kabut asap menyelimuti Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (28/7/2026). Dinkes Kalteng melalui Plt. Kepala Dinas Kesehatan Mikko Uriamapas Ludjen mengimbau masyarakat mewaspadai dampak paparan PM2.5 terhadap kesehatan.
PALANGKA RAYA, TOVMEDIA.CO.ID – Kabut asap mulai menyelimuti Kota Palangka Raya dan sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah dalam beberapa hari terakhir. Kondisi yang diduga dipicu oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tersebut berdampak pada penurunan kualitas udara sehingga masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko gangguan kesehatan.
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah, Mikko Uriamapas Ludjen, mengatakan peningkatan konsentrasi partikel halus PM2.5 harus menjadi perhatian serius karena dapat masuk jauh ke saluran pernapasan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.
“Peningkatan konsentrasi PM2.5 ini perlu kita sikapi serius karena partikel halus tersebut dapat masuk jauh ke saluran napas dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama pada kelompok rentan seperti balita, lansia, ibu hamil, dan penderita ISPA. WHO menegaskan anak-anak, lansia, dan orang yang sudah sakit lebih rentan terhadap dampak polusi udara, sementara BMKG memantau PM2.5 sebagai indikator kualitas udara yang perlu diwaspadai,” ujar Mikko di Palangka Raya, Selasa (28/7/2026).
Menurut Mikko, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah akan terus memperkuat langkah promotif, preventif, serta kewaspadaan dini guna mengurangi dampak kesehatan akibat kabut asap.
Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara menurun. Apabila harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker pelindung seperti N95 sangat dianjurkan. Selain itu, masyarakat diminta menjaga kualitas udara di dalam rumah dan mengurangi paparan asap, terutama bagi anggota keluarga yang masuk kategori rentan.
“Untuk kelompok rentan, kami mendorong pembatasan paparan yang lebih ketat, pemantauan gejala sejak dini, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila muncul batuk, sesak napas, atau keluhan infeksi saluran pernapasan,” katanya.
Selain upaya pencegahan di masyarakat, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah juga meningkatkan kesiapsiagaan fasilitas pelayanan kesehatan. Penguatan dilakukan di puskesmas maupun rumah sakit melalui penyediaan obat-obatan, oksigen, edukasi kesehatan, serta mekanisme rujukan bagi pasien yang mengalami kondisi lebih berat.
“Paparan PM2.5 berkaitan dengan meningkatnya risiko infeksi saluran pernapasan dan dapat memperberat kondisi pada masyarakat yang telah memiliki penyakit paru maupun penyakit kronis lainnya. Karena itu, kesiapan layanan kesehatan menjadi bagian penting dalam upaya perlindungan masyarakat,” jelasnya.
Mikko menegaskan perlindungan masyarakat harus dilakukan secara cepat dan terkoordinasi melalui pemantauan kualitas udara harian, komunikasi risiko yang jelas, serta kesiapsiagaan layanan kesehatan di lapangan.
Ia juga mengimbau orang tua menghindarkan balita dari paparan asap secara langsung, memastikan asupan gizi dan cairan tercukupi, serta memantau pola pernapasan anak.
Sementara itu, lansia serta penderita ISPA maupun asma diminta tetap mematuhi jadwal konsumsi obat atau penggunaan inhaler, menghindari aktivitas fisik berat, dan segera memeriksakan diri apabila batuk maupun sesak napas semakin memburuk.
Bagi anak-anak dan ibu hamil, Dinas Kesehatan mengimbau agar membatasi aktivitas maupun olahraga di luar ruangan. Jika harus berada di luar rumah, penggunaan masker secara disiplin sangat dianjurkan. Masyarakat juga diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami pusing, sesak napas, atau gangguan kesehatan lain yang diduga berkaitan dengan paparan kabut asap.
Mikko berharap masyarakat tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta mengikuti informasi kualitas udara dari instansi berwenang. Menurutnya, langkah pencegahan sejak dini menjadi kunci untuk meminimalkan dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat.
Penulis : Wiyandri