Para peserta PRICE 2026 berfoto bersama seusai mengikuti pembukaan konferensi pendidikan internasional di Palangka Raya, Rabu (14/10/2026).
PALANGKA RAYA, TOVMEDIA.CO.ID – Universitas Palangka Raya (UPR) mendorong akademisi memperkuat kolaborasi nasional dan internasional. Hal itu guna menghasilkan penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat.
UPR mengangkat upaya tersebut melalui The 2nd Palangka Raya International Conference on Education (PRICE) 2026 yang mempertemukan akademisi dan peneliti dari dalam maupun luar negeri.
Salah satu pembicara undangan (invited speaker) dari UPR, Natalina Asi, mengatakan, konferensi pendidikan membuka peluang bagi perguruan tinggi untuk memperluas kerja sama dengan universitas internasional. Forum tersebut juga memberi kesempatan kepada mahasiswa dan akademisi untuk bertukar pengetahuan, berbagi pengalaman, dan meningkatkan kompetensi.
Natalina mendorong peserta memanfaatkan konferensi untuk memperdalam kajian dan penelitian sesuai bidang keilmuan masing-masing. Dia juga mengajak akademisi menghubungkan pengembangan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat.
“Hal ini sejalan dengan target pemerintah agar kegiatan perguruan tinggi memberikan dampak nyata bagi masyarakat, sehingga hasil pengembangan ilmu pengetahuan tidak hanya bermanfaat di lingkungan akademik, tetapi juga dapat diterapkan untuk menjawab berbagai kebutuhan dan persoalan masyarakat,” ujar Natalina, Rabu (14/10/2026).
Natalina turut mengajak akademisi meneliti berbagai persoalan lingkungan. Dia menilai kajian ilmiah dapat membantu masyarakat memahami tantangan lingkungan, termasuk dampak pembakaran terhadap alam.
Ketua Panitia PRICE 2026, Akhmad Fauzan, mengatakan konferensi tersebut mendorong peningkatan kualitas dosen, mahasiswa, dan institusi pendidikan. Dia berharap peserta melanjutkan pertukaran gagasan melalui penelitian dan kajian yang lebih mendalam.
Fauzan juga menilai, kerja sama dengan universitas internasional dapat memperluas wawasan akademisi. Kolaborasi tersebut, menurut dia, membantu perguruan tinggi meningkatkan kapasitas dalam menghadapi berbagai tantangan keilmuan.
“Kegiatan konferensi tidak hanya berakhir pada pelaksanaan seminar dan presentasi, tetapi juga diharapkan mendorong peserta melakukan kajian yang lebih mendalam sesuai bidang keilmuan masing-masing. Hasil kajian tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, sejalan dengan tuntutan agar perguruan tinggi menghasilkan kegiatan yang berdampak,” katanya.
Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UPR, Rinto Alexandro, mengajak perguruan tinggi menghubungkan pengembangan ilmu pengetahuan dengan penyelesaian persoalan masyarakat. Dia mendorong kampus di dalam dan luar negeri memperkuat sinergi melalui berbagai kegiatan ilmiah.
Rinto berharap, kolaborasi tersebut memperluas wawasan akademisi dan menghasilkan gagasan untuk menjawab tantangan global. Dia juga mendorong perguruan tinggi mengembangkan kerja sama penelitian guna membantu menangani persoalan lingkungan, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Menurut Rinto, pertukaran pengetahuan dapat memperkuat kerja sama antarkampus dan mendorong akademisi merumuskan langkah konkret yang bermanfaat bagi masyarakat serta pembangunan.
Panitia PRICE 2026 menghadirkan pembicara utama (keynote speakers) dari Australia, Filipina, dan Inggris. Panitia juga mengundang akademisi dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, antara lain UPR, Universitas Jambi, Universitas Negeri Jakarta, dan Universitas Negeri Yogyakarta.
Panitia mencatat 109 presenter mengikuti konferensi tersebut. Sebanyak 55 presenter menyampaikan makalah secara langsung, sedangkan 54 presenter lainnya memaparkan hasil kajian secara daring.
Melalui PRICE 2026, UPR mendorong para akademisi memperluas jaringan kerja sama, meningkatkan kualitas penelitian, dan menghasilkan inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat.
Editor: Frans Dodie*
