Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kristomei Sianturi. Foto BPMI Setpres
JAKARTA, TOVMEDIA.CO.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memprioritaskan lima provinsi dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yakni Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, dan Kalimantan Barat.
Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi menyampaikan hal tersebut dalam Sidang Kabinet Paripurna (SKP) Dua Tahun Pertama Pemerintahan Kerja Nyata untuk Negeri di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Dalam penanganan karhutla, BNPB juga memperbaiki metode penghitungan luas area terbakar dengan memanfaatkan citra satelit. Teknologi tersebut membantu petugas memantau titik panas atau hotspot secara lebih akurat.
“Sejak kami dilantik per tanggal 15 Oktober 2026, kami terus mengambil langkah memperbaiki metode penghitungan dengan menggunakan citra satelit,” kata Kristomei dalam laporannya.
Ia menjelaskan, kondisi karhutla di sejumlah wilayah prioritas masih menjadi perhatian pemerintah. Sumatra Selatan dan Jambi mengalami peningkatan kebakaran, meskipun kenaikannya belum terlalu signifikan.
Selain pemantauan satelit, BNPB melakukan upaya modifikasi cuaca menggunakan penyemaian dry ice untuk membantu memicu hujan di wilayah yang membutuhkan penanganan.
Kristomei melaporkan, BNPB telah menyemai 3.100 kilogram dry ice melalui lima sorti sejak 20 Oktober 2026. Sementara itu, di Sumatra Selatan, petugas menyemai 800 kilogram dalam satu sorti.
Upaya tersebut turut diikuti perbaikan kualitas udara di Palembang. BNPB melaporkan penurunan kadar partikulat PM2,5 serta peningkatan jarak pandang dari 700 meter menjadi 7.000 meter.
Di sisi lain, Polri terus menindak pelaku pembakaran hutan dan lahan. Hingga laporan disampaikan, kepolisian mencatat 286 laporan polisi untuk kasus perorangan dengan luas area terbakar mencapai 5.856 hektare dan menetapkan 243 orang sebagai tersangka.
Penegakan hukum juga menyasar perusahaan yang diduga terlibat dalam karhutla. Berdasarkan laporan per 20 Oktober 2026, Polri mencatat 100 laporan polisi terkait korporasi dengan luas area terbakar 29.534,99 hektare dan menetapkan 13 korporasi sebagai tersangka.
Editor : Frans Dodie
