Kepala BMKG Kotim, Mulyono Leo Nardo
SAMPIT, TOVMEDIA.CO.ID — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memprediksi musim hujan kali ini berlangsung lebih singkat dari biasanya. BMKG menunjuk fenomena El Nino yang bertahan hingga awal 2027 sebagai pemicu utama perubahan pola cuaca tersebut.
Kepala BMKG Kotim, Mulyono Leo Nardo, meminta warga mematuhi imbauan penghematan air. Ia mengingatkan warga agar mengelola pasokan air secara bijak untuk kebutuhan harian maupun pengairan sawah.
“Karena musim hujan juga berkurang, pasokan air berpotensi ikut berkurang, terutama di daerah tadah hujan. Kami mengimbau masyarakat memanfaatkan air semaksimal mungkin dan lebih bijak dalam penggunaannya, khususnya untuk kebutuhan pertanian dan konsumsi,” kata Mulyono di Sampit, Kamis (15/10/2026).
Mulyono memperkirakan awal musim hujan baru menyapa Kalteng pada November mendatang dan bakal berakhir sekitar Mei atau Juni 2027. Pada kondisi lazim, hujan biasanya mengguyur wilayah ini mulai Oktober hingga Juni tahun berikutnya.
Dampak El Nino menggeser jadwal awal musim hujan. Pergeseran ini otomatis memangkas durasi musim hujan ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Selain memperpendek durasi, El Nino berpotensi menekan volume curah hujan di wilayah Kotim.
“Masih disebut musim hujan, tetapi jumlahnya tidak sebanyak curah hujan yang kita terima dalam kondisi normal. Adapun, curah hujan normal rata-rata bisa di atas 200 sampai 300 milimeter per bulan, bahkan ada yang mencapai 400 hingga 500 milimeter,” jelas Mulyono.
Ia menegaskan, tingkat penurunan curah hujan bakal bervariasi di tiap wilayah. Bentuk geografis dan karakter daerah turut menentukan sejauh mana El Nino memengaruhi ketersediaan air bersih.
Penurunan curah hujan ini membunyikan alarm bagi warga yang menggantungkan kebutuhan pada air hujan, terutama pemukiman yang belum memiliki jaringan air bersih memadai. Petani tadah hujan juga menghadapi tantangan berat karena keberhasilan panen mereka bergantung penuh pada ketersediaan pasokan air.
Editor: Frans Dodie*
