Rupiah melemah terhadap dolar AS pada awal perdagangan Senin di tengah tekanan sejumlah sentimen eksternal. Foto Ist
JAKARTA, TOVMEDIA.CO.ID – Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan awal pekan, Senin (5/10/2026).
Mengacu data Bloomberg, rupiah turun 0,19 persen atau 34 poin ke level Rp17.916 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan akhir pekan sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp17.882 per dolar AS setelah menguat 0,47 persen.
Analis Pasar Uang Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa, mengatakan rupiah masih memiliki peluang untuk menguat meski pasar menghadapi sejumlah risiko global.
“Rupiah mendapatkan peluang untuk penguatan, tapi masih menghadapi banyak risiko dari global,” kata Jessica, seperti dikutip dari rri.co.id, Senin (5/10/2026).
Menurut Jessica, indeks dolar AS melemah dan diperkirakan bergerak dalam kisaran 101,90-102,21. Pergerakan indeks dolar turut dipengaruhi imbal hasil obligasi pemerintah AS dan data ketenagakerjaan non-pertanian.
Data non-farm payrolls AS pada September 2026 hanya bertambah 29 ribu, jauh di bawah ekspektasi 84 ribu. Kondisi itu menunjukkan momentum pasar tenaga kerja AS mengalami pelemahan tajam.
Tingkat pengangguran AS juga meningkat menjadi 4,2 persen, sementara pertumbuhan upah melambat menjadi 3 persen secara tahunan.
Jessica menilai pelemahan data tenaga kerja meningkatkan ekspektasi perubahan arah kebijakan The Fed. Namun, inflasi inti yang masih tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang relatif kuat dapat membuat bank sentral AS mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Di pasar obligasi domestik, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia relatif stabil. Imbal hasil tenor 10 tahun bertahan di level 7,17 persen, sedangkan tenor dua tahun turun tipis menjadi 6,81 persen.
“Spread antara INDOGB dan US Treasury masih berada di kisaran 200 basis poin. Spread-nya masih menarik di tengah risiko tingkat bunga global yang tinggi,” ujar Jessica.
Selain faktor pasar global, Jessica mencermati kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam mendukung program 3 juta rumah. BI memberikan insentif makroprudensial sebesar Rp118 triliun yang disertai ketentuan Loan to Value (LTV) dan Financing to Value (FTV) hingga 100 persen.
BI juga memperluas underlying repo untuk surat berharga PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) dan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI).
Jessica menilai kebijakan tersebut memperkuat sikap BI yang pro-pertumbuhan dengan mengurangi tekanan pembiayaan di sektor perbankan sekaligus mendorong transmisi likuiditas ke kredit perumahan.
Editor : Frans Dodie
