Universitas Palangka Raya (UPR) menggelar The 2nd Palangka Raya International Conference on Education (PRICE) 2026, Rabu (14/10/2026). Foto Ist
PALANGKA RAYA, TOVMEDIA.CO.ID – Universitas Palangka Raya (UPR) menggelar The 2nd Palangka Raya International Conference on Education (PRICE) 2026, Rabu (14/10/2026). Kampus tertua di Kalteng ini memacu kolaborasi akademik, meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), dan mencetak riset yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalteng, M Reza Prabowo, membuka agenda ini mewakili Gubernur Agustiar Sabran. Sebanyak 109 presenter memaparkan hasil kajian mereka. Sebanyak 55 peserta menyampaikan materi secara tatap muka (on-site), sementara 54 peserta lainnya mengikuti diskusi secara daring.
Panitia menghadirkan keynote speaker dari Australia, Filipina, dan Inggris. Selain itu, invited speaker dari berbagai kampus ternama di Indonesia turut memperkaya materi. Antara lain UPR, Universitas Jambi, Universitas Negeri Jakarta, dan Universitas Negeri Yogyakarta.
Invited Speaker UPR Natalina Asi menegaskan, forum ilmiah ini memperkuat jaringan kerja sama UPR dengan kampus-kampus internasional. Melalui ajang ini, para akademisi dan mahasiswa saling berbagi pengetahuan untuk mendongkrak reputasi serta mutu lembaga pendidikan.
“Langkah ini sejalan dengan target pemerintah agar kegiatan perguruan tinggi memberikan dampak nyata. Hasil ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti di ruang akademik, tetapi harus menjawab persoalan masyarakat,” ujar Natalina.
Natalina mencontohkan kasus pembakaran lahan yang merusak lingkungan. Masalah ini membutuhkan kajian ilmiah intensif dan solusi konkret dari para peneliti.
Ketua Panitia PRICE 2026 Akhmad Fauzan menyebut, kegiatan ini sebagai modal penting untuk meningkatkan kapasitas dosen dan mahasiswa. Ia memastikan konferensi ini tidak selesai pada presentasi makalah saja.
“Kami mendorong peserta melakukan kajian susulan yang lebih mendalam. Hasil riset harus memberi kontribusi nyata bagi publik,” tegas Akhmad.
Sedangkan Dekan FKIP UPR Rinto Alexandro menguatkan pandangan tersebut. Rinto menekankan bahwa perguruan tinggi wajib memberi dampak positif di tingkat nasional maupun internasional.
Sinergi antarkampus membuka jalan keluar untuk menjawab tantangan global, seperti bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalteng. Kerjasama ini melahirkan gagasan segar serta aksi nyata bagi pembangunan daerah.
Editor: Frans Dodie*
