Perwakilan warga Kecamatan Kotawaringin Lama melangsungkan aksi damai di Bundaran Pancasila, Pangkalan Bun, guna mendesak penanganan Karhutla, Kamis, 15 Oktober 2026. Foto Ist
PANGKALAN BUN, TOVMEDIA.CO.ID — Sejumlah warga Kecamatan Kotawaringin Lama (Kolam), Kabupate Kotawaringin Barat, menyambangi kawasan Bundaran Pancasila, Pangkalan Bun, Kamis (15/10/2026) pagi. Mereka menggelar aksi damai untuk menyampaikan keresahan atas bencana karhutla yang meluas di wilayah setempat
Peserta aksi sekaligus Kepala Desa Riam Durian, Yusuf, mendesak pemerintah pusat segera menerjunkan unit water bombing untuk menuntaskan pemadaman di lapangan.
Yusuf menjelaskan, amukan api telah membakar wilayah mereka selama kurang lebih empat bulan. Warga, relawan, hingga pemerintah daerah terus mengupayakan pemadaman, tetapi mereka menghadapi hambatan besar saat menembus titik api.
“Kami sudah berusaha menanggulangi masalah kebakaran ini. Kami membentuk satgas dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Cuma, yang kami perlukan sekarang itu water bombing,” kata Yusuf.
Ia mengungkapkan, relawan menghadapi kendala berat di jalur darat karena medan yang ekstrem serta wilayah terdampak yang sangat luas. Yusuf mencatat, kobaran api bahkan sempat melumpuhkan akses utama di Jalan Kotawaringin Lama. Situasi tersebut menuntut kehadiran langsung pemerintah pusat untuk menuntaskan masalah.
“Jalan Kotawaringin Lama bisa dibayangkan sampai lumpuh karena api. Nah, itu yang kami harapkan, ada perhatian benar-benar lebih kepada kita karena kita pun bagian dari Negara Republik Indonesia,” tegas Yusuf.
Mengenai kendala jarak pandang yang menghambat penerbangan pemadam, Yusuf meminta pemerintah mempertimbangkan opsi pengerahan armada pesawat TNI Angkatan Udara atau bantuan militer lain sesuai prosedur teknis.
Ia menegaskan, warga melangsungkan aksi damai ini murni atas dasar kepedulian tanpa bermaksud menyudutkan pihak mana pun. Warga desa hanya menuntut perhatian dan langkah nyata pemerintah pusat untuk memadamkan karhutla di Kalteng.
“Kami tidak menyudutkan pemerintah apa pun. Kami hanya ingin diperhatikan. Kami menyuarakan ini dengan hati, tidak ada embel-embel. Yang kami inginkan hanya agar negara hadir,” pungkas Yusuf.
Editor: Frans Dodie*
