Gubernur Kalteng, Agustiar Sabran, mendampingi Wapres Gibran Rakabuming Raka memantau antrean BBM di SPBU di Palangka Raya. Foto Ist
PALANGKA RAYA, TOVMEDIA.CO.ID – Selisih harga Pertamax dan Pertalite mendorong sebagian masyarakat beralih ke BBM bersubsidi. Gubernur Kalteng, Agustiar Sabran, menyebut kondisi itu menjadi salah satu faktor yang ikut mendorong antrean kendaraan di sejumlah SPBU.
Agustiar menyampaikan hal tersebut setelah pemerintah berkoordinasi dengan Pertamina mengenai antrean dan distribusi BBM. Menurut dia, kenaikan harga Pertamax memperlebar selisih harga dengan Pertalite sehingga permintaan terhadap BBM bersubsidi ikut meningkat.
“Setelah kita koordinasi dengan pihak Pertamina, memang salah satu penyebab antrean ini karena Pertamax naik cukup jauh, sehingga space atau selisih harganya dengan Pertalite cukup jauh. Akhirnya masyarakat banyak yang membeli Pertalite,” kata Agustiar.
Karena itu, Agustiar mengimbau masyarakat membeli BBM sesuai kebutuhan. Ia meminta masyarakat tidak membeli secara berlebihan agar masyarakat lain yang membutuhkan tetap mendapat BBM bersubsidi.
“Saya minta masyarakat membeli sesuai kebutuhan, pemakaiannya juga wajar. Jangan berlebihan, karena kita ingin semua masyarakat yang memang membutuhkan bisa mendapatkan BBM,” ujarnya.
Selain mengimbau masyarakat, Agustiar meminta pemerintah kota dan pihak terkait memperketat pengawasan di setiap SPBU. Ia ingin pemerintah memastikan penyaluran BBM bersubsidi tepat sasaran dan mencegah penyalahgunaan.
“Pemerintah kota juga kita minta melakukan penertiban dan pengetatan di setiap SPBU. Kita ingin penyaluran BBM bersubsidi ini tepat sasaran,” tegasnya.
Untuk menjaga distribusi, pemerintah terus memantau kondisi pasokan BBM di lapangan. Agustiar mengatakan pemerintah juga berkoordinasi dengan Pertamina untuk mengetahui kondisi distribusi dan mencari solusi ketika muncul kendala.
Agustiar menilai, pemerintah dan masyarakat perlu mengambil peran bersama untuk mengurangi antrean. Pemerintah harus menjaga distribusi dan pengawasan, sedangkan masyarakat perlu membeli BBM sesuai kebutuhan dan peruntukannya.
“Kita terus pantau dan koordinasikan dengan Pertamina. Yang penting masyarakat juga memahami kondisi. Belilah sesuai kebutuhan dan peruntukannya, jangan sampai karena membeli berlebihan akhirnya masyarakat lain tidak kebagian,” katanya.
Dengan pengawasan dan penggunaan yang wajar, Agustiar berharap antrean di SPBU berkurang dan masyarakat tetap memperoleh BBM sesuai kebutuhannya.
“Intinya kita sama-sama menjaga. Pemerintah mengawasi dan menertibkan, masyarakat juga menggunakan BBM secara wajar,” pungkasnya.
Editor: Frans Dodie*