Muhammad Wildan Al Ghozali, pelajar MAN 1 Kotawaringin Timur, mengukir prestasi internasional setelah namanya masuk Hall of Fame US Department of Education berkat laporan temuan kerentanan keamanan siber yang dinyatakan valid melalui mekanisme pelaporan resmi. Foto Ist
SAMPIT, TOVMEDIA.CO.ID – Muhammad Wildan Al Ghozali, pelajar MAN 1 Kotawaringin Timur (Kotim), mengukir prestasi internasional setelah US Department of Education (Departemen Pendidikan Amerika Serikat) mencantumkan namanya dalam Hall of Fame. Pengakuan itu diberikan setelah laporan temuan kerentanan keamanan siber yang ia kirim melalui mekanisme resmi dinyatakan valid.
Muhammad Wildan Al Ghozali membuktikan bahwa pelajar dari daerah mampu bersaing di tingkat internasional. Pelajar kelas XI MAN 1 Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, itu berhasil mencatatkan namanya dalam Hall of Fame US Department of Education berkat kontribusinya melaporkan kerentanan keamanan siber secara etis melalui mekanisme responsible disclosure.
“Alhamdulillah, saya senang dan bangga karena laporan yang saya kirim dinyatakan valid. Saya berharap ini bisa menjadi motivasi bahwa pelajar dari daerah juga mampu berprestasi hingga kancah internasional,” kata Wildan, Sabtu (1/8/2026).
Belajar Otodidak hingga Raih Pengakuan
Wildan mulai menaruh minat pada dunia teknologi sejak duduk di bangku SMP. Awalnya ia gemar bermain gim di laptop. Ketertarikannya berkembang setelah melihat seorang temannya mampu membuat program komputer. Sejak saat itu, ia belajar secara mandiri melalui media sosial, mesin pencari, dan berbagai referensi di internet.
Ia terus mengasah kemampuannya tanpa bergabung dengan komunitas maupun mengikuti bimbingan khusus. Bahkan, Wildan sempat membuka jasa pembuatan situs web sebelum akhirnya fokus mendalami bidang keamanan siber.
Perjalanan itu membawanya mengenal program bug bounty, yakni program resmi yang memberi kesempatan kepada peneliti keamanan menemukan dan melaporkan kerentanan sistem agar dapat segera diperbaiki oleh pengelolanya.
Temuan Diakui Departemen Pendidikan AS
Wildan kemudian mengikuti program melalui platform Bugcrowd yang mempertemukan organisasi dengan peneliti keamanan independen dari berbagai negara. Ia mempelajari ruang lingkup sistem yang boleh diuji, kemudian melakukan analisis hingga menemukan kerentanan berupa kebocoran informasi pada domain yang berkaitan dengan klien di Amerika Serikat.
Selanjutnya, Wildan mengirimkan laporan melalui prosedur resmi. Setelah menjalani proses verifikasi, pengelola menyatakan laporannya valid dan mencantumkan namanya dalam Hall of Fame sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya membantu meningkatkan keamanan sistem.
“Saya juga meminta sertifikat resmi dan saat ini masih berproses. Sertifikat itu akan menjadi portofolio ketika saya melanjutkan pendidikan maupun berkarier di bidang keamanan siber,” ujarnya.
Rekam Jejak di Bidang Siber
Prestasi itu bukan yang pertama bagi Wildan. Sebelumnya, ia juga pernah melaporkan sejumlah kerentanan pada beberapa situs di Indonesia melalui mekanisme pelaporan yang berlaku. Ia mengaku selalu mengutamakan etika dalam setiap proses pengujian maupun pelaporan.
Menurut Wildan, bug hunter atau peneliti keamanan berbeda dengan pelaku peretasan yang bertujuan merusak sistem. Seorang peneliti keamanan justru membantu pengelola menemukan kelemahan sistem sebelum dimanfaatkan pihak yang tidak bertanggung jawab.
Dukungan keluarga, guru, dan teman-teman turut menguatkan semangatnya untuk terus belajar. Orang tuanya juga memenuhi kebutuhan belajarnya dengan menyediakan laptop sebagai sarana mengembangkan kemampuan di bidang teknologi.
Ke depan, Wildan bercita-cita menjadi cybersecurity analyst dan melanjutkan pendidikan di bidang teknologi informasi. Ia juga mengajak generasi muda memanfaatkan teknologi secara bijak serta meningkatkan kesadaran terhadap keamanan digital.
“Anak muda harus lebih melek teknologi, lebih berhati-hati menggunakan media sosial, dan menjaga jejak digital. Hal kecil seperti membagikan data pribadi atau membuat komentar yang buruk dapat menjadi pintu masuk berbagai kejahatan siber. Semoga semakin banyak generasi muda yang bijak memanfaatkan teknologi,” tuturnya.
Editor: Frans Dodie*