Siti Ngaisah (tengah) setia mengabdi sebagai pengasuh TPA Harapan Bunda PT Mustika Sembuluh - I, Wilmar Group, Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah. Telah dua dekade itu membaktikan dirinya. Foto Istimewa
SAMPIT, TOVMEDIA.CO.ID – Setiap pagi, di tengah perkebunan sawit yang luas, Siti Ngaisah memulai hari dengan senyuman hangat dan sapaan lembut kepada anak-anak yang diasuhnya. Di Tempat Penitipan Anak (TPA) Harapan Bunda PT Mustika Sembuluh – I, Wilmar Group, Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah, anak-anak menyambutnya dengan keceriaan.
Sejak tahun 2005, perempuan asal Wonosobo, Jawa Tengah, ini telah mengabdikan diri untuk mengasuh anak-anak di TPA tersebut. Ia mengikuti suaminya yang bekerja di sebuah perusahaan perkebunan yang baru berdiri. Tak lama setelah itu, suaminya meninggal dunia, namun Siti memilih untuk tetap tinggal dan bekerja di TPA. Ia memutuskan untuk membesarkan ketiga anaknya di sana, yang kini sudah dewasa dan bekerja di perusahaan yang sama.
“Rasanya saya bukan lagi bekerja, tapi mengasuh anak sendiri. Saya ingin tetap mengasuh anak-anak selama saya masih kuat,” kata Siti yang kini berusia 55 tahun.
Bagi Siti, mengasuh anak-anak bukan sekadar pekerjaan, tetapi panggilan hati. Banyak dari mereka yang sudah ia anggap seperti anak sendiri. Salah satunya, anak yang ia asuh sejak bayi dan kini bekerja di PT Mustika Sembuluh. Ketika ada anak yang sulit diatur, Siti selalu membujuk mereka agar mau mendengarkan.
Perkembangan TPA Harapan Bunda
Seiring berjalannya waktu, TPA yang awalnya hanya sebuah ruangan sederhana kini berkembang pesat. Fasilitas tersebut kini memiliki ruang bermain, alat edukasi, serta tenaga pengasuh terlatih seperti Siti. Bagi banyak keluarga yang bekerja di perkebunan, TPA bukan hanya tempat menitipkan anak, tetapi juga rumah kedua yang memberi rasa aman. Program ini memungkinkan orang tua untuk bekerja dengan tenang, tanpa khawatir anak-anak mereka tidak mendapatkan perhatian yang cukup.
Perusahaan yang mengelola TPA ini, PT Mustika Sembuluh, kini mengoperasikan lebih dari 50 TPA di seluruh wilayah operasinya di Kalimantan Tengah. Program ini adalah bagian dari komitmen perusahaan untuk mendukung kesejahteraan keluarga karyawan, khususnya para ibu yang bekerja di perkebunan.
TPA sebagai Investasi Masa Depan
Sarimanah, Koordinator Sustainability Wilmar Central Kalimantan Project, menekankan bahwa keberadaan TPA bukan hanya memberikan dukungan bagi karyawan, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang untuk membangun generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter.
“Anak-anak yang tumbuh di TPA sejak kecil kini banyak yang melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dan bahkan kembali bekerja di perusahaan ini. Mereka tumbuh dengan disiplin, kemandirian, dan nilai-nilai kebersamaan,” jelas Sarimanah.
Fasilitas seperti TPA, sekolah Bina Bangsa, dan berbagai inisiatif sosial lain membuktikan komitmen perusahaan dalam mendukung kesejahteraan keluarga di perkebunan. Sarimanah menambahkan bahwa pembangunan industri yang berkelanjutan tidak hanya berfokus pada aspek produksi, tetapi juga pada kesejahteraan manusia yang ada di baliknya, yaitu para pekerja, keluarga, dan anak-anak yang menjadi masa depan bangsa.
Membangun Masa Depan Lewat Pengasuhan yang Penuh Kasih
Program TPA sangat penting bagi masyarakat di sekitar perkebunan. Banyak ibu yang terpaksa meninggalkan anak-anak mereka untuk bekerja. Melalui fasilitas ini, anak-anak mendapatkan pengasuhan, gizi yang baik, serta stimulasi pendidikan usia dini yang mendukung perkembangan mereka secara optimal.
Siti Ngaisah adalah contoh nyata dari dedikasi para pengasuh di TPA PT Mustika Sembuluh. Dengan pengabdian penuh kasih selama dua dekade, ia telah memberikan kontribusi besar dalam memberikan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak yang diasuhnya.
Bagi Siti, setiap anak yang datang ke TPA adalah bagian dari keluarganya. Dengan penuh dedikasi, ia berharap dapat terus mengasuh dan memberikan yang terbaik bagi generasi mendatang, selama ia masih diberi kekuatan untuk melakukannya.
Kisah Siti hanya salah satu dari banyak cerita pengasuh yang penuh ketulusan, yang telah membangun masa depan cerah bagi anak-anak di perkebunan sawit, dan memberikan dampak positif bagi komunitas yang lebih luas.
Editor: Frans Dodie