Rektor UPR Prof Dr Ir Salampak MS mengalungkan gordon Guru Besar kepada Prof Dr Ir Evi Feronika MSi dalam prosesi pengukuhan di Aula Rahan UPR, Palangka Raya, Rabu (15/4/2026). Foto Istimewa
PALANGKA RAYA, TOVMEDIA.CO.ID – Suasana khidmat menyelimuti Aula Rahan Universitas Palangka Raya, Rabu (15/4/2026). Rektor UPR, Prof Dr Ir Salampak MS, secara resmi mengukuhkan Prof Dr Ir Evi Feronika Elbaar, MSi sebagai Guru Besar.
Momen ini menandai puncak perjalanan panjang dedikasi akademik yang tidak hanya sarat prestasi, tetapi juga menunjukkan komitmen terhadap pengembangan ilmu pengetahuan di daerah.
Prosesi pengukuhan berlangsung dengan tata upacara akademik yang tertib. Mengawali rangkaian acara dengan pembacaan keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Selanjutnya, Prof. Evi menyampaikan orasi ilmiah di hadapan sivitas akademika dan tamu undangan. Rektor Salampak kemudian mengalungkan gordon Guru Besar sebagai simbol pengukuhan resmi.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof Evi menekankan pentingnya penguatan riset berbasis potensi lokal. Ia menggarisbawahi bahwa Kalimantan Tengah menyimpan kekayaan sumber daya alam yang belum sepenuhnya tergarap melalui pendekatan ilmiah.
“Perguruan tinggi harus hadir sebagai pusat solusi, bukan sekadar penghasil lulusan,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor Salampak menegaskan, pengukuhan ini tidak hanya menjadi pencapaian personal, tetapi juga kebanggaan institusi. Ia menilai, kehadiran Guru Besar baru akan memperkuat kapasitas akademik UPR, khususnya dalam meningkatkan kualitas penelitian dan publikasi ilmiah.
“Ini menjadi energi baru bagi UPR untuk terus berkontribusi dalam pembangunan daerah dan nasional,” katanya.
Di luar seremoni, Prof Evi memaknai gelar Guru Besar sebagai amanah untuk terus mengabdi melalui tri dharma perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Ia berharap, pencapaiannya dapat memotivasi dosen muda untuk terus berkarya dan melampaui batas.
Pengukuhan ini sekaligus menegaskan komitmen Universitas Palangka Raya dalam melahirkan akademisi yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga mampu memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Editor: Frans Dodie*