Anggota Komisi III DPRD Palangka Raya Arif M. Norkim saat meninjau kondisi sekolah di wilayah pinggiran kota.
PALANGKA RAYA, TOVMEDIA.CO.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Palangka Raya didorong memberikan dukungan khusus kepada tenaga pendidik yang bertugas di wilayah pelosok dan kawasan pinggiran kota. Salah satu bentuk perhatian yang dinilai perlu dipertimbangkan adalah bantuan biaya transportasi bagi guru dengan jarak tempuh mengajar yang cukup jauh.
Anggota Komisi III DPRD Kota Palangka Raya, Arif M. Norkim, mengatakan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah daerah. Sebab, banyak guru yang ditempatkan di kawasan seperti Danau Tundai, Bukit Pinang, Bereng Bengkel dan sejumlah wilayah pinggiran lainnya justru berdomisili di pusat kota.
“Guru-guru yang mengajar di wilayah pelosok seperti Danau Tundai, Bukit Pinang, Bereng Bengkel dan daerah pinggiran lainnya perlu mendapat perhatian, khususnya untuk biaya transportasi,” kata Arif, Sabtu (15/8/2026).
Ia menyebutkan, sekitar 90 persen guru yang bertugas di sejumlah wilayah tersebut bukan warga setempat. Akibatnya, mereka harus menempuh perjalanan cukup jauh setiap hari untuk menjalankan tugas mengajar.
Selama ini, biaya perjalanan tersebut sebagian besar masih ditanggung secara pribadi oleh para guru, termasuk untuk kebutuhan bahan bakar minyak (BBM).
“Selama ini mereka menggunakan uang pribadi untuk membeli BBM, sementara jarak tempuh menuju sekolah cukup jauh,” ujarnya.
Menurut Arif, beban transportasi guru di wilayah pelosok tentu berbeda dengan tenaga pendidik yang mengajar di kawasan perkotaan. Faktor jarak, kondisi akses dan waktu perjalanan membuat biaya yang harus dikeluarkan menjadi lebih besar.
Karena itu, ia mendorong Pemkot Palangka Raya mencari skema dukungan yang dapat meringankan beban para guru, salah satunya melalui pengalokasian Bantuan Operasional Sekolah Daerah (Bosda).
“Kalau hanya mengajar di dalam kota mungkin tidak terlalu menjadi masalah, tetapi kalau di daerah pelosok dan pinggiran tentu biaya transportasinya lebih besar,” katanya.
Arif menilai dukungan tersebut bukan sekadar bentuk bantuan, tetapi juga bagian dari upaya menjaga keberlangsungan pelayanan pendidikan di wilayah yang jauh dari pusat kota. Dengan adanya dukungan transportasi, guru diharapkan dapat menjalankan tugas secara lebih optimal tanpa harus mengalokasikan sebagian besar penghasilannya untuk biaya perjalanan.
Ia berharap kebutuhan tersebut dapat menjadi pertimbangan dalam penyusunan anggaran daerah, terutama untuk sekolah yang berada di kawasan dengan jarak tempuh dan akses yang cukup berat.
“Harapan kami ada Bosda yang dianggarkan khusus untuk membantu uang transport bagi tenaga pendidik yang bertugas di pelosok atau wilayah pinggiran kota,” pungkasnya.
Penulis Wiyandri
Editor : Frans Dodie