Prof Dr Ir Evi Feronika Elbaar MSi menyampaikan orasi ilmiah dalam Rapat Senat Terbuka Universitas Palangka Raya, Rabu (15/4/2026). Foto Istimewa
PALANGKA RAYA, TOVMEDIA.CO.ID – Di balik podium Rapat Senat Terbuka Universitas Palangka Raya, Rabu (15/4/2026), Prof Dr Ir Evi Feronika Elbaar MSi, berdiri dengan ketenangan yang matang. Hari itu bukan sekadar seremoni akademik biasa. Itu adalah momen di mana sains bertemu dengan janji suci dan penghormatan kepada leluhur.
“Pohon yang tumbuh tinggi tidak pernah berdiri sendiri,” ucapnya lembut namun tegas dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar bidang Ilmu Agribisnis dan Pertanian Berkelanjutan.
Tepat 32 tahun yang lalu, pada tanggal yang sama, ia mengikat janji pernikahan bersama suaminya, Ir Elianson Bungas Gerson, MT. Kini, di ulang tahun pernikahannya, ia mempersembahkan kado terindah: gelar akademik tertinggi yang juga menjadi wujud pemenuhan janji kepada mendiang ayahnya, Prof Drs Lambertus Elbaar.
Menjawab Tantangan Perfect Storm
Dalam orasinya yang bertajuk “Strategi Transformasi Agribisnis Berkelanjutan di Lahan Gambut Kalimantan Tengah untuk Ketahanan Pangan”, Prof Evi menyoroti fenomena perfect storm yang mengancam sistem pangan global. Ia memaparkan realitas pahit di mana perubahan iklim berpotensi menurunkan produksi pangan wilayah tropis hingga 30%.
Bagi Prof Evi, Indonesia, khususnya Kalimantan Tengah, berada di persimpangan jalan. Dengan luasan gambut tropis mencapai 13,43 juta hektare, masa depan pangan kita bergantung pada bagaimana kita memperlakukan ekosistem yang rapuh ini.
“Lahan gambut bukan sekadar sumber daya yang dapat kita eksploitasi, melainkan merupakan batas ekologis yang menuntut rekonstruksi cara kita membangun sistem agribisnis,” tegasnya.
Tiga Pilar Transformasi
Prof Evi menawarkan paradigma baru (shifting paradigm) agar pertanian di lahan gambut tidak lagi bersifat eksploitatif, tetapi berbasis ekosistem. Ia merumuskan tiga pendekatan strategis:
- Solusi Berbasis Alam (Nature-based Solutions): Mengembangkan paludikultur dan agroforestry, seperti mengolah jelutung menjadi eco-latex atau purun menjadi eco-product tanpa merusak rawa.
- Rantai Pasok Hijau: Membangun koneksi antara petani lokal dengan pasar premium yang menghargai produk ramah lingkungan melalui sistem lacak (traceability).
- Integrasi Pendanaan Iklim: Memanfaatkan mekanisme pembiayaan karbon (green climate fund) dan pembiayaan campuran (blended financing) untuk meningkatkan pendapatan petani sekaligus menjaga emisi.
Melampaui Menara Gading
Rekam jejak Prof Evi menunjukkan bahwa pemikirannya tidak lahir dari ruang hampa. Ia adalah sosok yang berkelindan dengan realitas sosial. Mantan anggota DPRD Kalimantan Tengah (1997–1999) ini telah melahirkan puluhan karya ilmiah. Mulai dari isu ketahanan pangan hingga peran perempuan Dayak dan pencegahan pernikahan dini.
Baginya, gelar Guru Besar bukanlah sebuah akhir atau sekadar formalitas gelar. Ia menempatkan ilmu agribisnis dalam tanggung jawabnya terhadap realitas: sebuah harmoni antara perut yang kenyang dan bumi yang tetap lestari.
“Menanam bukan sekadar menumbuhkan hasil, melainkan merawat hubungan antara manusia dan alam. Di situlah masa depan pangan ditentukan,” tutupnya di hadapan para anggota senat UPR dan tamu undangan,.
Editor: Frans Dodie*