Wilmar mengadakan pelatihan teknik filtrasi air bersih bagi masyarakat, kemarin. Foto Istimewa
SAMPIT, TOVMEDIA.CO.ID – Perusahaan agribisnis Wilmar meluncurkan program filtrasi air bersih untuk masyarakat di Kabupaten Seruyan dan Kotawaringin Timur (Kotim).
Program ini bertujuan meningkatkan akses warga terhadap air layak pakai secara berkelanjutan, terutama di wilayah yang kualitas sumber airnya masih rendah.
Sejumlah daerah di dua kabupaten tersebut selama ini bergantung pada air keruh bercampur tanah gambut, yang bersifat asam dan mengandung besi tinggi. Untuk kebutuhan harian, warga menggunakan tawas untuk menjernihkan air atau menampung air hujan sebagai sumber air mandi dan minum.
Peluncuran program filtrasi air mendapat sambutan positif dari masyarakat. SD Pantap I di Desa Pantap, Kecamatan Mentaya Hulu, Kabupaten Kotim, menjadi salah satu penerima manfaat. Kepala sekolah, Ahmad Muzakir, mengatakan, program ini membantu siswa memperoleh air bersih untuk kegiatan sehari-hari.
“Manfaat filtrasi air di sekolah akan sangat banyak karena siswa dapat mengakses air bersih. Ini sangat mendukung aktivitas kami,” ujarnya dalam kegiatan Pelatihan Teknik Filtrasi Air Bersih bagi Sekolah dan Masyarakat di Sampit.
Dalam kesempatan tersebut, perusahaan menyerahkan 15 alat filtrasi air kepada sekolah dan masyarakat secara simbolis.
Muzakir menuturkan, warga sebelumnya harus mengeluarkan biaya sekitar Rp150 ribu per bulan untuk membeli tawas agar air dapat digunakan, namun hasilnya masih menimbulkan bau. “Dengan filtrasi, penjernihan air lebih efisien,” katanya.
Berperan dalam Penurunan Stunting
Dari sisi kesehatan, Kepala Bidang Dinas Kesehatan Kabupaten Kotim, Noorliyana, menjelaskan bahwa akses air bersih dan sanitasi layak masih terbatas akibat kondisi geografis yang didominasi lahan gambut, dataran tinggi, dan kawasan pesisir. Ia menyebut masyarakat rentan terserang penyakit seperti diare dan penyakit kulit akibat kualitas air yang buruk.
Ia juga menegaskan, ketersediaan air bersih berperan dalam upaya penurunan angka stunting. Ia berharap, program serupa dapat diperluas ke wilayah lain yang membutuhkan.
“Karena air tidak bersih, nutrisi sulit diserap maksimal sehingga dapat menimbulkan stunting. Dampaknya memang tidak langsung, tetapi penyediaan air layak pakai akan berpengaruh pada kesehatan anak,” ujarnya.
Sementara itu, CSR Manager Wilmar Central Kalimantan Project, Widiyanto, mengatakan perusahaan menaruh perhatian pada kesehatan masyarakat di sekitar wilayah operasional. Ia berharap program filtrasi air dapat memberi manfaat jangka panjang bagi warga.
“Air adalah salah satu kebutuhan dasar masyarakat. Dengan air yang layak pakai, aktivitas masyarakat dapat berjalan lebih baik,” katanya.
Editor: Frans Dodie