Peserta Pesparani Katolik I Kalteng yang diduga keracunan makanan mendapatkan perawatan di IGD RS Betang Pambelum Palangka Raya. Foto Istimewa
PALANGKA RAYA, TOVMEDIA.CO.ID – Puluhan peserta Pesparani Katolik I Kalteng dilarikan ke RS Betang Pambelum, setelah diduga mengalami keracunan makanan pada Minggu (23/11/2025).
Insiden tersebut terjadi usai para peserta menyantap sarapan pagi di GOR Serbaguna Indoor, Palangka Raya. Kejadian ini langsung menghebohkan jalannya kegiatan.
Pihak panitia bidang kesehatan dengan cepat merujuk para peserta ke rumah sakit karena gejala yang terus memburuk. Mereka mengeluhkan sakit perut, mual, pusing, hingga muntah-muntah. Hingga sore hari, jumlah korban terus bertambah.
“Saya mulai merasa mules sekitar jam 11 siang, lalu muntah-muntah,” ujar Yosefa Irani, salah satu peserta yang dirawat.
Korban yang dirawat sebagian besar adalah anak-anak dan remaja dari kategori lomba PSA dan PSR. Namun, beberapa orang dewasa juga ikut terdampak kondisi tersebut. Selain itu, jumlah pasien yang masuk IGD sempat mencapai 30 orang dan masih terus bertambah.
Peserta lain, seperti Alfonso Neymar, Theresia Avila, dan Bernadetha Carmel juga mengalami gejala serupa. Mereka mengaku mulai merasakan sakit beberapa jam setelah sarapan nasi kotak. Situasi selama perawatan pun berlangsung intens karena banyak peserta yang tampak lemah.
Sementara itu, Gubernur Kalteng Agustiar Sabran langsung menjenguk para peserta yang dirawat. Ia memastikan seluruh biaya perawatan ditanggung Pemerintah Provinsi. Menurutnya, hanya kontingen Kota Palangka Raya yang mengalami dugaan keracunan tersebut.
Agustiar juga menegaskan bahwa penanganan kasus ini akan diserahkan kepada pihak berwajib. Dengan langkah itu, diharapkan penyebab pasti insiden dapat terungkap. Ia menilai hal ini sangat serius karena menyangkut keselamatan banyak orang.
Ketua Panitia Pesparani Kalteng 2025, Sutoyo, menyebut total korban mencapai 38 orang. Dari jumlah tersebut, 24 orang masih menjalani perawatan di RS Betang Pambelum. Sebagian peserta masih harus rawat inap, sementara lainnya menjalani screening kesehatan lanjutan.
Editor: Frans Dodie