Wakil Bupati Kotawaringin Timur, Irawati.
SAMPIT, TOVMEDIA.CO.ID – Pemkab Kotawaringin Timur (Kotim) menyiapkan aturan pembatasan penggunaan gawai bagi pelajar untuk mencegah penyebaran radikalisme digital. Pemerintah daerah mengambil langkah ini setelah menemukan indikasi rekrutmen paham radikal melalui gim online dan media sosial.
Pemkab Kotim memandang ancaman tersebut berpotensi merusak psikologis dan ideologi anak sejak dini. Oleh karena itu, pemerintah daerah mulai merumuskan kebijakan sebagai langkah pencegahan. Selain itu, Pemkab Kotim ingin memperkuat perlindungan pelajar dari konten berbahaya di ruang digital.
“Ke depan saya akan berkoordinasi dengan Pak Bupati agar kita bisa mengeluarkan instruksi, paling tidak pembatasan penggunaan gadget bagi anak-anak usia sekolah, karena ini sangat berbahaya,” kata Wakil Bupati Kotim, Irawati, Rabu (7/1/2026).
Irawati menjelaskan, anak berusia 5 – 15 tahun menjadi kelompok paling rentan terhadap pengaruh konten negatif. Pada usia tersebut, anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan mudah terpengaruh. Kondisi ini mendorong pemerintah daerah mengambil langkah tegas.
Ia menilai, banyak orang tua memberikan gawai hanya untuk membuat anak diam. Padahal, kebiasaan tersebut membuka peluang anak terpapar konten radikalisme dan kekerasan digital. Karena itu, Irawati meminta orang tua lebih bijak mengawasi penggunaan gadget.
“Anak-anak ini labil dan ingin tahu semuanya. Jangan karena ingin anak diam lalu dikasih HP. Justru itu sangat berbahaya,” ujarnya.
Sebagai pembanding, Irawati menyebut sejumlah daerah seperti Surabaya telah membatasi penggunaan gadget bagi siswa SD dan SMP. Ia berharap, Kotim dapat menerapkan kebijakan serupa demi melindungi generasi muda. Dengan langkah ini, pemerintah daerah berupaya menutup ruang penyebaran paham radikal.
Selain menyusun aturan, Pemkab Kotim juga menggandeng Densus 88 untuk melakukan sosialisasi. Pemerintah akan memberikan penyuluhan kepada masyarakat, ASN, PPPK, tenaga outsourcing, dan media. Pemkab juga mendorong orang tua mengalihkan perhatian anak ke kegiatan positif agar tidak bergantung pada gawai.
Editor: Frans Dodie