Wakil Bupati Kotawaringin Timur, Irawati.
SAMPIT, TOVMEDIA.CO.ID – Pemkab Kotawaringin Timur (Kotim) mengawasi dua murid SD dan beberapa ASN karena dugaan paparan radikalisme. Aparatur daerah menindaklanjuti temuan ini dengan pemantauan intensif. Langkah ini penting untuk mencegah penyebaran paham radikal dan menjaga stabilitas sosial.
Wakil Bupati Kotim, Irawati, meminta OPD aktif membimbing ASN, PPPK, dan tenaga kontrak yang terindikasi terpapar radikalisme. Ia juga menginstruksikan orang tua mengikutsertakan anak-anak dalam kegiatan positif. Dengan demikian, pencegahan radikalisme dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.
“Ada dua pelajar dan ada ASN yang kami pantau. Nanti mereka akan kami beri pemahaman dan penyuluhan untuk menghindari paham seperti itu. Proses pembinaan masih memungkinkan karena paparan belum terlalu jauh,” kata Irawati, Selasa (6/1/2026).
Irawati menjelaskan, Densus 88 mendeteksi indikasi radikalisme melalui aplikasi mencurigakan di wilayah Kotim. Pemerintah daerah segera menindaklanjuti dengan pengawasan dan pembinaan. Aparatur menilai langkah ini penting untuk mencegah penyebaran paham radikal lebih luas.
Dua murid SD direkrut melalui game online, seperti Roblox, dan diarahkan masuk grup WhatsApp. Di grup itu, mereka menerima doktrin kebencian, ajaran radikal berbasis agama, dan konten kekerasan. Aparat Polres Kotim dan DP3A2KB memantau kedua murid secara berkala.
Irawati meminta orang tua membatasi penggunaan gawai anak, terutama usia 5–15 tahun yang paling rentan terpengaruh. Ia menekankan pemerintah daerah akan mengeluarkan instruksi Bupati terkait pembatasan gadget. Aparatur daerah mencontoh peraturan serupa di Surabaya untuk mencegah paparan radikalisme pada murid SD dan SMP.
Selanjutnya, Irawati menegaskan, pemerintah membina ASN dan anak-anak secara aktif agar mereka menjauhi paham radikal. Ia menekankan sinergi antara pemerintah, orang tua, dan aparat penegak hukum menjadi kunci keberhasilan pencegahan. Pemerintah daerah berharap, langkah ini memastikan masyarakat aman dan generasi muda tetap produktif.
Editor: Frans Dodie