Kondisi salah satu ruas jalan di Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur. Foto Istimewa
SAMPIT, TOVMEDIA.CO.ID – Ketika malam tiba di Pulau Hanaut, sunyi bukan sekadar suasana, melainkan kenyataan pahit. Lampu-lampu rumah padam tanpa pemberitahuan, dan kegelapan menyelimuti desa-desa yang berada di sepanjang pesisir salah satu kecamatan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) itu.
Di wilayah yang dikelilingi sungai dan rawa ini, kehidupan masyarakat berjalan berdampingan dengan tantangan. Tiga kebutuhan dasar: listrik, air bersih, dan akses jalan, masih menjadi kemewahan yang belum sepenuhnya mereka nikmati.
“Listrik itu masih ngikut jalur dari Seranau. Tapi sekarang PLN sudah survei, rencananya akan dialihkan dari Bagendang ke Pulau Lepeh, lalu ke Pulau Hanaut. Jadi tidak tergantung lagi ke Seranau,” ungkap Camat Pulau Hanaut, Dedi Purwanto, Kamis (2/10/2025).
Keterbatasan infrastruktur listrik membuat aliran tenaga di Pulau Hanaut sangat rentan terhadap gangguan. Saat musim hujan, satu kabel putus saja bisa membuat warga terjebak dalam kegelapan hingga tiga hari.
“Kalau jalur terganggu, petugas harus telusuri jalur panjang dari Seranau. Itu makan waktu. Kadang listrik padam berhari-hari,” keluh Dedi.
Bagi sebagian besar orang, listrik mungkin hal biasa. Tapi bagi warga Hanaut, nyala lampu adalah simbol kenyamanan yang tak selalu mereka miliki.
Air Hujan yang Dinanti
Masalah air bersih tidak kalah pelik. Warga menggantungkan kebutuhan air minum dan masak pada air hujan yang mereka tampung dalam tandon-tandon rumah. Namun ketika kemarau datang, tandon-tandon itu perlahan mengering, menyisakan kekhawatiran.
“Sumur bor sudah kami coba, tapi hasilnya tak layak minum. Ada yang asin, ada yang berkarat, kuning,” tutur Dedi.
Bagi masyarakat Hanaut, setiap tetes air hujan adalah berkah. Tapi di musim kemarau, berkah itu berubah menjadi kekhawatiran. Tidak ada air perpipaan, dan solusi air bersih masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah.
Jalan Sempit, Pendidikan Tersendat
Kondisi jalan yang sempit dan rusak juga membatasi aktivitas warga. Lebar jalan utama yang hanya dua hingga tiga meter membuat perjalanan antardesa menjadi perjuangan tersendiri, apalagi bagi para guru yang mengajar di wilayah pesisir.
“Kalau air pasang, guru-guru itu kesulitan lewat. Dari Hanaut ke Satiruk bisa sampai satu jam naik motor,” jelas Dedi.
Padahal, jalan adalah urat nadi kehidupan. Tanpa akses yang layak, pendidikan, ekonomi, dan pelayanan kesehatan pun berjalan tersendat. Meski tantangan berat, harapan belum sirna. Rencana pembangunan jalan lintas dari Seranau menuju Pagatan dari pemerintah provinsi menjadi secercah cahaya bagi masyarakat.
“Itu harapan kita. Jalur itu satu-satunya yang benar-benar kita andalkan ke depan,” kata Dedi.
Pulau Hanaut bukan hanya soal peta dan letak geografis. Ia adalah wajah nyata dari perjuangan masyarakat pedesaan di Kalimantan Tengah. Di tengah keterbatasan, mereka tetap bertahan, menjaga asa bahwa suatu hari, listrik akan terus menyala, air akan selalu tersedia, dan jalan tak lagi menjadi penghalang menuju masa depan yang lebih baik.
Editor: Frans Dodie