ilustrasi
JAKARTA, TOVMEDIA.CO.ID – Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan Jumat (9/10/2026) dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Namun, tekanan inflasi akibat kenaikan harga minyak dunia dan arah kebijakan bank sentral AS masih membayangi pergerakan mata uang domestik.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat 25 poin atau 0,14 persen ke level Rp17.890 per dolar AS pada pukul 08.34 WIB. Posisi tersebut lebih kuat dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di angka Rp17.915 per dolar AS.
Pelemahan dolar AS turut mendukung pergerakan rupiah pada awal perdagangan. Indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) tercatat turun 0,15 persen ke posisi 101,988 pada pukul 09.00 WIB.
Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati perkembangan ekonomi global yang berpotensi memengaruhi stabilitas nilai tukar. Kenaikan harga minyak menjadi salah satu perhatian karena dapat meningkatkan biaya produksi dan transportasi.
Dilantir kompas.com, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai dinamika global masih memengaruhi pergerakan pasar keuangan domestik. Investor juga mengantisipasi dampak kenaikan harga energi terhadap prospek inflasi.
Tekanan harga minyak turut meningkat seiring eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk spekulasi mengenai kemungkinan aksi militer Amerika Serikat terhadap Iran. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan serta jalur pelayaran minyak dunia.
Harga minyak mentah Brent sempat melonjak 3,87 persen menjadi 104,08 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 3,29 persen ke level 91,18 dolar AS per barel.
Selain ketegangan geopolitik, ancaman Badai Isaias yang mendorong penutupan sementara fasilitas produksi di Teluk Meksiko turut menambah kekhawatiran terhadap pasokan minyak. Kenaikan harga energi berpotensi memperbesar tekanan inflasi dan membuat bank sentral global, khususnya Federal Reserve (The Fed), lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneter.
Editor : Frans Dodie
