Empat ABK WNI korban penyanderaan MT Honour 25 tiba di Tanah Air setelah menjalani proses pembebasan dan pemulangan dari Somalia. Foto Ist
JAKARTA, TOVMEDIA.CO.ID – Empat anak buah kapal (ABK) asal Indonesia akhirnya pulang setelah lebih dari lima bulan menjalani penyanderaan di Somalia. Pasukan keamanan Puntland membebaskan mereka dalam operasi pada 29 September 2026 sebelum pemerintah Indonesia memulangkan mereka ke Tanah Air.
Keempat WNI itu tiba di Indonesia pada Selasa, 6 Oktober 2026. Pertemuan mereka dengan keluarga di Terminal VIP Bandara Internasional Soekarno-Hatta berlangsung emosional.
Salah seorang ibu bahkan sempat pingsan ketika kembali bertemu anaknya setelah berbulan-bulan terpisah. Keempat WNI itu ialah Kapten Ashari Samadikun (34), asal Gowa; Wahudinanto (48), asal Pemalang; Adi Faizal (27), asal Bulukumba; dan Fiki Mutakin (25), asal Bogor.
Kelompok perompak membajak MT Honour 25 di perairan Hafun, Somalia, pada 22 April 2026. Pasukan keamanan Puntland kemudian menjalankan operasi pembebasan pada 29 September 2026.
Duta Besar Indonesia untuk Kenya merangkap Somalia, Witjaksono Adji, mengatakan, para awak kapal menghadapi situasi serius selama penyanderaan. Menurut dia, para awak menghadapi ancaman kekerasan hingga risiko eksekusi. Fiki mengalami luka paling serius dalam operasi pembebasan. Peluru mengenai kaki kanannya ketika pasukan keamanan menjalankan operasi. Dalam situasi tersebut, Fiki bertahan dengan berpura-pura meninggal. Salah seorang pembajak kemudian menutup tubuhnya dengan kain.
Saat tiba di Jakarta, Fiki masih menggunakan kursi roda dengan kaki terbalut perban. Tiga WNI lainnya selamat tanpa mengalami luka serius. Kapten Ashari tetap berada di kapal setelah pasukan keamanan membebaskan para awak. Dia membantu mengoperasikan MT Honour 25 hingga kru pengganti tiba.
Pemerintah Indonesia menjalankan proses pembebasan melalui koordinasi dengan sejumlah pihak. Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengatakan pemerintah berkomunikasi dengan pemerintah Somalia dan pemilik kapal.
Indonesia juga berkoordinasi dengan India, Pakistan, dan Myanmar karena warga negara ketiga negara tersebut turut menjadi awak MT Honour 25.
“Koordinasi juga dilakukan dengan pemerintah-pemerintah yang warga negaranya menjadi kru kapal tersebut,” kata Arrmanatha.
Pemerintah Indonesia juga berkomunikasi dengan otoritas Puntland, pemerintah federal Somalia, jejaring masyarakat setempat, dan berbagai pihak lain yang dapat membantu proses pembebasan.
Informasi mengenai operasi penyelamatan sempat simpang siur. Witjaksono mengatakan dia sempat menerima kabar tentang seorang WNI yang meninggal dalam operasi tersebut.
Kabar itu kemudian terbantahkan setelah Kapten Ashari menghubunginya dan memastikan seluruh WNI masih hidup. Fiki memang mengalami luka tembak, tetapi berhasil selamat.
Setelah operasi, petugas membawa keempat WNI ke Garowe, ibu kota Puntland. Mereka menjalani penanganan dan persiapan sebelum kembali ke Indonesia. Mereka akhirnya tiba di Tanah Air pada 6 Oktober 2026.
Namun, pengalaman selama penyanderaan masih membekas. Kapten Ashari mengaku menyesal karena tidak dapat membawa seluruh awak kapal kembali dalam keadaan selamat.
Lima awak MT Honour 25 meninggal selama kelompok perompak menguasai kapal tersebut. Tidak satu pun korban merupakan WNI. “Saya tidak bisa menepati janji saya membawa semua kru saya dengan keadaan selamat. Saya memohon maaf sebesar-besarnya,” ujar Ashari.
Kepulangan keempat WNI itu mengakhiri masa penyanderaan yang berlangsung sejak April. Fiki masih menjalani pemulihan setelah mengalami luka tembak dalam operasi pembebasan.
Editor: Frans Dodie*
