Produk olahan ikan Kelompok Srikandi Tanjung, Desa Tanjung Rangas, Kabupaten Seruyan, yang dikembangkan melalui program pelatihan dan pendampingan PT Sarana Titian Permata. Foto Ist
KUALA PEMBUANG, TOVMEDIA.CO.ID – Kelompok Srikandi Tanjung di Desa Tanjung Rangas, Kabupaten Seruyan, mulai mengembangkan pasar produk olahan ikan setelah mengikuti pelatihan dan mentoring yang digelar PT Sarana Titian Permata (STP).
Program CSR pilar perekonomian tersebut berlangsung pada 24-27 Juli 2026. Setelah mengikuti pelatihan, anggota kelompok berhasil mengembangkan 12 jenis produk olahan ikan dengan memanfaatkan bahan baku lokal.
Produk yang mereka hasilkan antara lain abon, amplang, kerupuk, steak ikan, ikan kering berbumbu, ikan kering premium, nugget, sempol ikan, pentol, dan ikan marinasi dengan cita rasa khas lokal.
Pengembangan produk itu mendapat dukungan peralatan dari STP. Perusahaan menyerahkan rumah jemur ikan berukuran 3×4 meter, freezer box 300 liter, spinner peniris minyak, vacuum sealer, blender, alat pemotong kerupuk, serta sejumlah peralatan pengolahan lainnya.
STP juga membantu kelompok mengurus legalitas usaha, izin edar produk melalui PIRT, dan sertifikasi halal. Dukungan tersebut memberi kelompok bekal untuk mengembangkan pemasaran secara lebih luas.
Ketua Kelompok Srikandi Tanjung, Emilda Rosihani, mengatakan, kelompoknya mulai mendapat respons pasar setelah mengikuti pelatihan. “Saat ini kami sudah menerima 140 bungkus pesanan,” katanya.
Tak berhenti pada pesanan awal, kelompok juga membawa produk mereka ke stand pameran UMKM Kecamatan Seruyan Hilir saat MTQ Kabupaten Seruyan pada awal Agustus 2026.
Pj Kepala Desa Tanjung Rangas Nurul Hidayah mengatakan seluruh produk UMKM Tanjung Rangas yang mereka bawa ke pameran tersebut terjual.
“Semua produk UMKM Tanjung Rangas ludes terjual,” ujarnya.
Capaian tersebut menjadi langkah awal Kelompok Srikandi Tanjung dalam memperkenalkan produk olahan ikan berbasis potensi lokal. Kelompok juga mendapat pendampingan setelah pelatihan untuk membantu menjaga keberlanjutan usaha.
Editor: Frans Dodie*