Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif, Yovie Widianto, memainkan piano saat memberi kuliah umum di UIN Palangka Raya, Selasa (10/2/2025). Foto Istimewa
PALANGKA RAYA, TOVMEDIA.CO.ID – Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif, Yovie Widianto, mendorong generasi muda Kalteng memanfaatkan teknologi digital dan kecerdasan buatan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi kreatif. Teknologi menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing anak muda.
“Gunakan teknologi, gunakan AI sebagai mesin ataupun mitra, lakukan semua secara terukur,” kata Yovie, saat memberi kuliah umum di UIN Palangka Raya, Selasa (10/2/2026).
Kuliah umum tersebut mengangkat tema “Ekonomi Kreatif sebagai Pilar Pemberdayaan Generasi Muda”. Kegiatan itu diikuti lebih dari 1.000 peserta yang terdiri dari mahasiswa dan pelajar.
Selanjutnya, Yovie meminta generasi muda tidak ragu menghadapi perubahan zaman. Ia menilai perkembangan teknologi, termasuk AI, harus dimanfaatkan secara bijak dan terarah.
Di sisi lain, ia mengingatkan derasnya arus informasi digital menuntut sikap kritis. Karena itu, generasi muda perlu memiliki kemampuan memverifikasi kebenaran informasi agar teknologi memberi dampak positif.
Selain membahas teknologi, Yovie juga berbagi pengalaman perjalanan hidup dan kariernya di industri musik. Ia menyebut kegagalan sebagai bagian penting dalam membentuk karakter dan strategi hidup.
“Strategi pasti pernah mengalami kegagalan. Kegagalan itu saya pelajari dengan sungguh-sungguh. Tidak ada tempat untuk arogansi dan kesombongan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Yovie menekankan pentingnya integritas. Menurutnya, kepintaran tanpa integritas tidak cukup untuk bertahan dan berkembang di tengah perubahan.
Dalam konteks ekonomi kreatif, Yovie melihat generasi muda memiliki peluang besar di sektor seni, musik, gim, dan pertunjukan. Ia mencontohkan industri musik yang mampu menciptakan nilai ekonomi berkelanjutan.
“Ketika Kahitna manggung di sini, saya tetap mendapatkan royalti. Itulah implementasi nyata ekonomi kreatif,” katanya.
Sementara itu, Yovie menanggapi fenomena lagu-lagu yang dicover menggunakan AI. Ia menilai teknologi tidak mampu sepenuhnya menggantikan emosi dan kejujuran karya manusia.
“Gunakan AI sebagai mesin, sebagai mitra, bukan pengganti,” tegasnya.
Yovie berharap, Kalteng menyediakan lebih banyak ruang dan ekosistem ekonomi kreatif. Dengan demikian, potensi generasi muda dapat tersalurkan secara optimal dan berkelanjutan.
Editor: Frans Dodie