PALANGKA RAYA, TOVMEDIA.CO.ID – Malam itu, Jalan Bakut tampak berbeda. Lampu-lampu jalan redup, namun halaman rumah di nomor 12 dipenuhi pelayat yang datang dari berbagai penjuru Kota Palangka Raya.
Mereka datang bukan sekadar untuk menghadiri prosesi kedatangan jenazah, tapi untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang terkenall bersahaja, tegas, dan penuh senyum hangat: Mofit Saptono Subagio.
Sekitar pukul 18.30 WIB, ambulans berhenti di depan rumah. Tangis dan pelukan keluarga pecah, menahan duka yang begitu dalam. Pembacaan Surah Yasin mengiringi momen hening itu, sementara para tetangga, rekan kerja, dan tokoh masyarakat berdiri dengan wajah penuh penghormatan.
Asisten I Setda Kota Palangka Raya, Yohn Benhur Gohan, yang menjemput jenazah di Bandara Tjilik Riwut, menjelaskan prosesi pemakaman akan berlangsung keesokan harinya. “Sebelum dimakamkan, Wali Kota Palangka Raya akan melepas jenazah di halaman Kantor Wali Kota. Bahkan Rektor Universitas Palangka Raya akan memberikan sambutan sebagai penghormatan atas jasa beliau,” ujar Benhur.
Sosok Pemimpin yang Bersahaja
Bagi keluarga dan rekan dekat, almarhum bukan hanya figur pejabat atau akademisi. Ia adalah sosok yang selalu menjaga kehangatan, bahkan di tengah kesibukan yang padat.
“Beliau selalu menyempatkan waktu untuk bercanda ringan, walau baru saja selesai rapat panjang atau menghadapi masalah besar,” kenang seorang sahabat dekat.
Mofit lahir di Yogyakarta pada 13 November 1965. Ia menempuh pendidikan hingga meraih gelar Doktor Ilmu Pertanian di Universitas Brawijaya, Malang, namun tak pernah meninggalkan kesederhanaan. Sebelum menjadi Wakil Wali Kota Palangka Raya periode 2013–2018, ia aktif di dunia akademik, mulai dari Sekretaris Jurusan Budidaya Pertanian hingga Lektor Kepala Program Studi Agroteknologi Universitas Palangka Raya.
Meski kariernya cemerlang, almarhum dikenal tidak memisahkan diri dari orang lain. “Kalau ada masalah, beliau selalu mencari solusi bersama, bukan menyalahkan. Itu yang membuat kami semua nyaman bekerja dengannya,” ujar seorang rekan kerja.
Hidup untuk Masyarakat
Kiprah Mofit tak hanya terbatas pada pemerintahan atau pendidikan. Ia aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan, mulai dari KNPI Kalimantan Tengah, Pramuka, Palang Merah Indonesia, hingga Perhimpunan Agronomi Indonesia. Semua kegiatan itu dilakukannya tanpa pamrih, semata demi membangun komunitas dan membantu sesama.
“Beliau selalu bilang, hidup itu tentang memberi manfaat. Tidak perlu sorotan, yang penting kerja nyata,” kenang seorang mantan mahasiswa yang kini ikut melayat.
Warisan yang Tak Terhapuskan
Kepergian Mofit Saptono Subagio meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan kerja, dan masyarakat. Namun di balik kesedihan itu, tersimpan rasa hormat dan kenangan hangat: senyum ramahnya, humor ringan yang melepas penat, dan ketegasan yang penuh rasa adil.
Hari ini Palangka Raya akan melepas almarhum untuk terakhir kali. Tetapi bagi mereka yang mengenalnya, sosok Mofit tidak akan pernah benar-benar pergi. Dalam setiap kebijakan, setiap lembaga pendidikan, dan setiap kegiatan sosial yang disentuhnya, jejaknya tetap hidup. Ia adalah pemimpin yang bekerja dalam diam, tetapi meninggalkan jejak ketulusan yang abadi.
Editor: Frans Dodie